Obrolan Tong Sampah

Di sudut kota besar, di sbuah pinggir jalan, halte bus dan tong sampah berdiri berdampingan di bawah terik mentari siang. SEsekali keduanya saling melirik meski tak sepatah kata yg terucapkan. Tak ada obrolan antara mereka. Hanya keheningan yg terus berlalu di tengah hingar bingarnya kendaraan dan silih bergantinya orang lalu lalang.

Dari pagi hingga petang, Si Halte perhatikan kelakuan Tong Sampah hanya melamun dan melamun. Tak ada kegiatan berarti yg dilakukannya. Hari sudah mulai petang. Si Tong masih saja duduk dengan lamunannya. Berbeda dengan Si Halte yg terus sibuk melayani para manusia yg menanti bus.

Halte hawatir, takut ada apa2 dengan Si Tong. Maka diapun menyapa Si Tong.

"Kenapa kau terus melamun Tong? Bukankan kamu sendiri pernah bilang kalau melamun itu hanya akan menambah beban mentalmu saja?'. Tanya tong membuka percakapan.

"Aku tidak sedang melamun Tong. Yg kulakukan dr tadi adalah merenungi nasibku saja..!" Jawab si Tong simpel.

"Oh... Memangnya apa yg menarik kau renungkan dari nasibmu seharian tadi Tong? Bukankah setiap hari juga nasibmu sama seperti tadi?"

"ITU dia Hal.. Kesamaan nasibku dari hari kehari yg menarik aku renungi" jawab tong sambil menyelang pembicaraan dengan tarikan napas yg dalam dan sesak, seberat takdir yg dilaluinya. "Bukan aku iri padamu, tapi aku juga ingin banyak jasa sepertimu. Aku tidak mau dibuat manusia hanya sebagai simbol dan pajangan semata. Aku ingin juga ada di dunia ini bermanfaat seperti keberadaanmu Tong. Aku ingin juga sibuk melayani para tuanku seperti yg kamu lakukan setiap hari. Aku tak mau diejek oleh sampah2 yg berserakan di depanku. Aku tak mau berdiri seumur hidupku hingga berkarat ini dengan sia2 belaka!"

"Tak usah merasa kecil hati begitu Tong.. Bukankah meski tak banyak digunakan sepertiku, kau sebetulnya tak dirugikan?" halte coba beri masukan pemikiran dgn maksud bisa ringankan pikiran Si Tong.

"Kalau dilihat dari sisi itu, apa yg kau katakan betul sekali Hal. Tapi apa jadinya yg kau rasakan jika di tengah potensiku yg besar, dan di luasnya tubuhku yg kokoh, nyatanya tak ada yg bisa kulakukan selain melihat dan mendengar tangisan duka dan pilu orang2 yg tak menghiraukanku??" jawab Si Tong sambil mengurai butiran air mata, saat mengenang beragam paradoxisme nasibnya di tengah bencana banjir yg menelan manusia.

"Iya juga sih Tong. Tapi apa juga kekuatan tangismu itu dapat merubah keadaan? Buat apa juga kau hiraukan nasib para majikan yg tolol itu? Kita kan dibuat hanya untuk taat pada mereka Tong! Kita turuti apa yg diperlakukan mereka, itulah bukti taat kita, iya kan? Jadi, biarlah mereka terus menderita dgn ketololan mereka sendiri"

"bener juga Hal apa katamu" Tong kayanya berhasil juga dibujuk Si Halte. "...kebersihan memang beda dgn panasnya siang dan basahnya hujan yg langsung terasa oleh badannya. Karena itulah mungkin kenapa keberadaan kau dirasa lebih berguna dibanding aku" sambung Tong memainkan buah renungannya.

"ya, itulah Tong... Manusia terkadang hanya sadar oleh ssuatu yg bisa langsung terasa. Tak heran jika di tengah kehidupan mereka, Allah SWT. selalu mengutus para Nabi-Nya untuk mengingatkan soal iman."

"Apakah maksudmu adalah bahwa inilah makna kenapa kebersihan dimasukkan dlm kategori iman, sementara berteduh tidak?" Tong penuh penasaran dgn raut muka sedikit mengharap tercerahkan.

"yah sedikitnya itulah yg ku pahami Tong. Bukankah iman dapat dapat berharga iman tatkala semuanya diyakini dan dijalani saat masih dalam keghaiban? Kalau sudah nampak, ya tidak berguna seperti tidak bergunanya pembenaran Firaun meski sahadahnya itu bercampur airmata dan garam".

Akhirnya kesunyian malampun mereka lalui dgn senyuman. Hari tak terasa sudah pagi lagi. Dan mereka tak pernah lelah berdiri penuh ketaatan meski sedikit yg menghargai eksistensi ketaatannya.

SHARE ON:

Penulis berusaha menulis di blog ini untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta pemikiran yang dipandang layak untuk disebar luaskan. Aktivitas sehari-hari penulis aktif sebagai tenaga pengajar piket pada salah satu lembaga pesantren di Kab. Bandung, serta aktif sebagai anggota Komunitas Penulis Islam

    Blogger Comment

0 comments:

Posting Komentar

Renungan
Ada Konsekuensi logis yang berlaku di setiap permasalahan yang kita ambil. Orang yang sadar akan makna konsekuensi, tindakannya tidak akan lepas dari kontrol pertimbangan yang matang. Setidaknya, tindakannya tidak berakhir dengan penyesalan.
Komentar saudara yang sarat dengan nilai, akan menjadi sumbangan berharga bagi penulis dan pembaca lainnya.